Keluarga merupakan unit terkecil dari suatu masyarakat tentunya memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarganya, yang meliputi kebutuhan fisik (makan dan minum), kebutuhan psikologi (disayangi/diperhatikan), spiritual/agama, serta kebutuhan hidup lainnya. Adapun, setiap keluarga pastinya bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi anggota keluarganya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan lima keluarga berbeda, terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan minat keluarga untuk mengelola keuangan keluarga. Hal ini dibuktikan oleh dua keluarga yang memiliki tingkat pendidikan yaitu sarjana, ternyata memiliki pola pikir yang lebih tinggi untuk mengelola keuangan keluarganya. Khususnya pada peran sang istri yang juga turut membantu menambah pemasukan keuangan keluarga dengan cara bekerja sambilan. Kedua istri tersebut menjelaskan bahwa mereka tidak ingin menggantungkan biaya hidupnya hanya dari pendapatan sang suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Akan tetapi, terdapat pula keluarga yang hanya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, ternyata tidak menutup kemungkinan juga bahwa mereka juga telah menerapkan pengelolaan keuangan dalam keluarganya. Hal ini dijelaskan oleh salah satu keluarga yang hanya berpendidikan SMA, bahwa keluarganya juga mengatur keuangan keluarga mulai dari perencanaan hingga evaluasi pengeluaran di setiap bulannya.

Pentingnya manajemen pengelolaan keuangan keluarga ternyata didominasi oleh alasan agar keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Adapun banyak pandangan dari masyarakat yang melihat bahwa keluarga yang sejahtera dilihat dari bagaimana keluarga tersebut dapat mencukupi kehidupannya, yang mana dalam memenuhi kehidupan tentunya harus ada pemasukan serta pengelolaan keuangan yang baik. Akan tetapi, dari kelima keluarga yang telah diwawancarai, ternyata kelimanya memiliki makna yang berbeda-beda terhadap arti kesejahteraan keluarga. Salah satu keluarga menjelaskan bahwa kesejahteraan keluarga dapat dibentuk dari adanya tindakan untuk menimbulkan perasaan cinta kasih antar sesama anggota keluarga, rasa aman, perlindungan, dan tentram. Hal ini berarti, dari segi pandangan tersebut, keluarga dengan kehidupan yang tentram akibat dorongan internal yang tinggi di antara sesama anggota keluarganya, juga dapat dikatakan bahwa keluarga tersebut adalah keluarga yang sejahtera. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pandangan tentang kesejahteraan keluarga dapat terbentuk oleh cara-cara serta perilaku yang terdapat di dalam setiap keluarga, dan bukan hanya dilihat dari segi finansialnya saja.

Walaupun kesejahteraan keluarga dapat terbentuk dari pandangan masing-masing keluarga, tetapi akan lebih baik bila dibarengi dengan manajemen keuangan yang baik pula. Karena, dengan pengelolaan keuangan yang baik, keluarga akan lebih terhindar dari masalah-masalah finansial dan tentunya pemenuhan kebutuhan hidup keluarga akan lebih terjaga. Walaupun banyak pepatah yang berkata bahwa uang bukan segalanya, tetapi perlu diketahui, bahwa saat ini, hampir segalanya membutuhkan uang. Maka dari itu, untuk menjaga kesejahteraan keluarga, sangat penting untuk mulai sedini mungkin merencanakan manajemen keuangan di dalam keluarga sesuai kebutuhannya masing-masing. Karena, apabila tidak segera dilakukan, maka kemungkinan akan memberi dampak di masa yang akan datang, bahkan hingga berujung perceraian dikarenakan masalah finansial dalam keluarga yang buruk.

sumber: https://www.kompasiana.com/khairunnisasabila3482/5e94705ed541df71f4525fd2/apakah-kesejahteraan-keluarga-hanya-diukur-dari-keuangan-yang-dimilikinya

Kategori: Berita

0 Komentar

Tinggalkan Balasan